Manajemen Takmir Masjid

5 Oktober 2026 · Institut Manajemen Masjid

Dokumentasi IMMASJID

PENGERTIAN MANAJEMEN

Organisasi dan manajemen bagaikan tubuh dengan jiwanya.  Keduanya merupakan  satu  kesatuan  yang tidak  bisa dipisahkan. Dalam  usaha  mencapai tujuan,  organisasi yang bersifat statis  harus  digerakkan oleh sesuatu yang dinamis yang disebut dengan manajemen. Manajemen  adalah  suatu proses  yang  terdiri  dari perencanaan (planning),  pengorganisasian  (organizing), pelaksanaan (actuating) dan  pengawasan  (controlling) dengan memanfaatkan ilmu dan seni dalam usaha mencapai   tujuan   yang   telah   ditetapkan sebelumnya.

Dokumentasi IMMASJID

Manajemen sebagai aktivitas manusia sudah ada  sejak lama atau dapat dikatakan bahwa semenjak suatu  usaha dikerjakan  oleh  lebih dari satu  orang  kita  sudah dapati  suatu macam manajemen. Manajemen  tersebut sifatnya   sangat  sederhana  dan   bekerja   menurut tradisi. Pada awal abad ke-dua puluh F.W. Taylor  dan  H. Fayol mengembangkan manajemen sebagai ilmu, sehingga mereka dikenal sebagai pelopor dalam ilmu manajemen. Selanjutnya  ilmu   manajemen   maupun penerapannya semakin berkembang sampai sekarang.

Sebagaimana  organisasi,  kepemimpinan,   pengambilan keputusan  dan  hubungan  antar  manusia,  manajemen adalah    merupakan   bagian    dari    administrasi. Administrasi terdiri dari organisasi dan  manajemen, sedang  organisasi adalah merupakan wadah  dari  pada kegiatan manajemen. Inti dari manajemen adalah kepemimpinan (leadership)    dimana aktivitas pengambilan  keputusan  (decision  making)  dilakukan dengan  memperhatikan hubungan antar  manusia  (human relation).   Adapun  hubungan  masing-masing   dapat digambarkan sebagai berikut:

Dokumentasi IMMASJID

PERAN MANAJEMEN DALAM MENCAPAI TUJUAN

Organisasi  adalah  wadah  serta  proses  kerja  sama sejumlah  manusia yang terikat dalam hubungan  formal dalam  rangkaian hirarki untuk mencapai  tujuan  yang telah  ditentukan. Organisasi bukanlah tujuan  tetapi alat  untuk  mencapai  tujuan.  Sebagai  bagian  dari administrasi,   organisasi  adalah  merupakan   wadah dimana  kegiatan  manajemen dijalankan.  Karena  itu tujuan  dari organisasi juga merupakan  tujuan manajemen.

Dalam usaha mencapai tujuan, manajemen  memiliki  peran  agar  proses  pencapaian tujuan  tersebut  dapat  berlangsung  secara  efektif  (berdaya  guna) dan efisien (berhasil  guna).  Dengan menerapkan    prinsip-prinsip   manajemen    seperti  planning, organizing, actuating, dan controlling, maka tujuan organisasi dapat diupayakan  untuk dicapai   dengan  lebih  baik.  Pada organisasi Ta’mir Masjid yang besar kita  dapat mengenal  tingkat-tingkat  (level)  manajemen   Pengurus yang biasa  disebut  dengan  pimpinan  tingkat  atas  (Top Manajemen / Higher  Manager),   pimpinan   tingkat menengah (Middle Manajemen / Middle Manager), pimpinan tingkat bawah (Lower Manajemen / Lower Manager).

Manajemen  memberi efektifitas dan efisiensi kerja bagi Pengurus dalam mencapai tujuan organisasi dengan memanfaatkan   sumber   daya   (potensi) organisasi yang  tersedia. Adapun sumber daya manajemen (manajemen resources)  Ta’mir Masjid antara lain: Akhlak   (morale),  orang  (man),   mesin (machine), material  (material), metode (method), uang  (money), waktu  (time),  sasaran da’wah (market) dan  lain  sebagainya.

PENERAPAN PRINSIP PRINSIP MANAJEMEN

Kalau  kita mengikuti definisi manajemen menurut Terry sebagaimana tersebut di depan,  maka  dapat diketahui  bahwa  prinsip-prinsip manajemen  ada empat yaitu: perencanaan  (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan / pelaksanaan (actuating) dan pengawasan  (controlling) yang disingkat dengan kependekan POAC.

1.  Planning

Planning   atau  perencanaan   adalah   proses pemikiran  dan  pengaturan yang  matang  untuk masa  akan datang dengan menentukan  kegiatan-kegiatannya. Agar tujuan yang telah ditentukan dapat   diusahakan  tercapai  dengan   sebaik-baiknya,  maka perencanaan yang  dilakukan  oleh Ta’mir Masjid sebaiknya memperhatikan unsur-unsur sebagai berikut:

a.  Tujuan (Objective/Goal).

b.  Kebijaksanaan (Policy).

c.  Prosedur (Procedure).

d.  Kemajuan (Progress).

e.  Anggaran (Budget).

f.  Program (Program).

Hanya Allah subhanahu wa  ta’ala yang tahu pasti apa yang  akan terjadi   di  masa  akan  datang. Dalam perencanaan kita harus  bersikap dan berfikir  positif,  artinya harus  optimis  berdasarkan  suatu   keyakinan bahwa  dengan pertolongan-Nya, insyaallah, segala  sesuatu yang telah direncanakan  dapat dilaksanakan dengan baik.

2. Organizing

Organizing  atau  pengorganisasian   merupakan pengaturan  segala perangkat dan  sumber  daya sedemikian   rupa  sehingga   merupakan   satu kesatuan organisasi yang harmonis dan dikelola untuk  mencapai tujuan yang telah  ditetapkan. Pengorganisasian   adalah  merupakan   langkah selanjutnya  dari rencana yang  telah  disusun sebelumnya.

Pengorganisasian  Ta’mir Masjid berorientasi pada tujuan umum organisasi  yang tercantum    dalam    Anggaran    Dasar.  Diimplementasikan    dalam    suatu     sistim organisasi   lengkap  dengan   segala   sumber dayanya,  meliputi moral,  manusia,  material, mesin, uang, metode dan perangkat keras maupun lunaknya. 

Proses   pengorganisasian  meliputi   berbagai rangkaian kegiatan yang bermula pada orientasi atas  tujuan  yang direncanakan  (tujuan  yang akan dicapai) dan berakhir  pada saat kerangka organisasi  yang tercipta  terlengkapi  dengan prosedur   dan   metode   kerja,   kewenangan, personalia  serta peralatan  yang  diperlukan. Proses   tersebut  meliputi:

a.  Perumusan kerja.

b.  Penetapan tugas pokok.

c.  Perincian kegiatan.

d.  Pengelompokan kegiatan dalam fungsi-fungsi.

e.  Departementasi.

f.  Penetapan otoritas organisasi.

g.  Staffing (pengisian personil).

h.  Fasilitating (pemberian fasilitas).

3. Actuating

Actuating  atau penggerakan bermakna  tindakan pengurus dan jama’ah dalam rangkaian  kegiatan untuk   menjalankan  roda organisasi dalam rangka mencapai  tujuan.  Karena faktor  manusia sangat dominan, maka  Pengurus dituntut  untuk lebih arif dalam mengatur  dan menggerakkan sumber daya manusia (SDM). Saling   memberi   motivasi   antara    sesama Pengurus,   Pengurus  dengan  jama’ah   maupun antar jama’ah akan banyak manfaatnya, terutama  di  dalam mendorong  semangat  untuk berkreasi  dan berinovasi  dalam  melaksanakan kegiatan da’wah Islam secara luas.

Pengurus  sebagai penggerak  utama  organisasi harus    mampu untuk   berkomunikasi,    memberikan pertimbangan dan nasehat, berfikir kreatif dan inovatif,  mengambil  inisiatif,  meningkatkan vitalitas   serta  memberi  stimulasi  kepada jama’ah  maupun sesama Pengurus. Beberapa  hal yang perlu diperhatikan adalah :

a.  Adanya  keteladanan  Pengurus dalam arti “uswatun hasanah“.

b.  Hindari terjadinya konflik dalam organisasi Ta’mir Masjid, baik konflik individual  maupun kelompok.

c.  Menghargai perasaan orang lain, toleran dan menghormati pendapat yang berbeda.

d.  Hindari terjadinya pengelompokan, persaingan antar kelompok dan usaha-usaha untuk mendominasi kegiatan organisasi Ta’mir Masjid.

e.  Memberi  kesempatan  yang sama  pada  semua jama’ah  untuk  berpartisipasi  aktiv   dan bekerja sama.

f.  Melaksanakan  aturan main sesuai dengan konstitusi organisasi.

g.  Iringi aktivitas kerja dengan berdoa, untuk mendapatkan pertolongan dan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

4.  Controlling

Controlling atau pengawasan merupakan tindakan mengawasi, mengarahkan dan     mengatur pelaksanaan kegiatan Ta’mir Masjid, agar  sesuai  dengan program dan  tujuan  yang telah  ditetapkan. Karena itu perlu  dilakukan tindakan-tindakan  pemeriksaan,   pengecekkan, inspeksi,  pengendalian dan tindakan-tindakan sejenisnya. Pengawasan dilakukan untuk menghindari terjadinya penyimpangan dan  penyelewengan maupun  untuk perbaikan sistim organisasi.

Pengawasan dimaksudkan agar pelaksanaan    kegiatan   organisasi    dapat berlangsung efektif dan efisien sesuai  dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan  merupakan  tindakan   pemanfaatan seluruh kegiatan organisasi untuk menjaga agar pelaksanaannya  sesuai  dengan  rencana   yang telah  disusun sebelumnya. Hasil-hasil pengawasan   selanjutnya   digunakan   sebagai masukan dalam perbaikan kegiatan organisasi. Pengawasan  Ta’mir Masjid dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

a.  Pengawasan sendiri.

b.  Pengawasan organisasi.

c.  Pengawasan jama’ah.

Pengawasan  bukan  sesuatu  yang  baru   dalam Islam,  Al Quraan mengajarkan apapun  tindakan amal manusia akan selalu diawasi.

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۚ

“ Dan  katakanlah: “Bekerjalah  kamu,  maka Allah  dan Rasul-Nya serta  orang-orang  mukmin akan  melihat pekerjaanmu itu, dan  kamu  akan dikembalikaan  kepada (Allah) Yang  Mengetahui akan   yang  ghaib  dan  yang  nyata,   lalu diberitakan-Nya  kepada  kamu apa  yang  telah kamu kerjakan.” (QS 9: 105, At Taubah).

Selain bermakna pengawasan, controlling juga memiliki maksud pengendalian aktivitas. Dengan menggunakan Siklus PDCA  (Siklus Deming, yaitu: Plan-Do-Check-Act), insyaallah, dapat dilakukan pengendalian dengan baik. PDCA juga dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi maupun untuk meningkatkan mutu kerja. Adapun langkah-langkah pengendalian maupun pemecahan masalah dalam organisasi  Ta’mir Masjid adalah sebagai berikut:

1.  Merencanakan (Plan / P)

Merencanakan program pengendalian/pemecahan masalah yang nantinya direalisasikan dalam aktivitas Ta’mir Masjid. Dilakukan berdasarkan prioritas, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan organisasi maupun analisa situasi dan kondisi aktual. Adapun analisa tersebut dapat dilakukan dengan:

  1. Menentukan masalah.
  2. Sebab-sebab timbulnya masalah.
  3. Memilih/menentukan sebab yang paling mungkin menimbulkan masalah.
  4. Memecahkan masalah.

2.  Melaksanakan (Do /D)

Berusaha melaksanakan program/rencana yang telah dibuat dengan sebaik-baiknya. Pelaksanaan harus dilakukan sesuai dengan rencana. Karena itu rencana perlu dikomunikasikan kepada seluruh personil Pengurus yang terkait. Setelah semua orang memahami rencana yang dibuat, selanjutnya rencana tersebut diimplementasikan. Diikuti dengan dokumentasi atas kegiatan-kegiatan yang dilakukan maupun hasil-hasil yang telah dicapai agar nantinya dapat dilaporkan (misalnya: laporan bulanan, tahunan dan lain-lain) dan distandarisasikan (misalnya: panduan, petunjuk pelaksanaan, pedoman dan lain-lain).

3.  Memeriksa (Check / C)

Pemeriksaan hasil kerja yang dilakukan dengan membandingkan hasil yang diperoleh dengan rencana yang telah dibuat. Tentu saja pembandingan dilakukan terutama pada hasil yang dicapai dengan sasaran atau target yang telah ditetapkan. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan analisa statistikal berdasarkan data dan fakta yang ada dan hasilnya dapat berupa grafik atau diagram.

Hasil-hasil kegiatan yang dilaporkan perlu untuk dikaji, dibahas secara lebih mendetail kebaikan dan kekurangannya, kemudian dibuat standar-standar kegiatan sebagai petunjuk pelaksanaan di masa yang akan datang. Tentu saja di sini dituntut keterbukaan dan suasana yang kondusif bagi lahirnya ide-ide cerdas, bukan saling salah menyalahkan, tetapi kritik untuk membangun dan perbaikan terus menerus.

4.  Memperbaiki (Act / A)

Mengadakan perbaikan dan peningkatan perencanaan untuk masa yang akan datang. Dengan mencegah berulangnya persoalan yang sama, melalui standarisasi kegiatan Ta’mir Masjid maupun pengaturan kegiatannya, dan memecahkan masalah yang belum terselesaikan. Jadi yang penting di sini adalah adanya perbaikan yang terus menerus  (continuous improvement) dan diikuti dengan perencanaan untuk masa yang akan datang yang lebih baik dari sebelumnya.

PENUTUP

Dalam  melaksanakan   prinsip-prinsip manajemen, Pengurus dan  anggota  Ta’mir Masjid dituntut  untuk  memiliki   kemampuan teknis,   kemanusiaan   dan konsepsional. Meskipun faktor utama manajemen  adalah manusia, namun berorganisasi bukan hanya sekedar mengurus manusia saja tetapi  juga faktor-faktor manajemen yang lain seperti  material, moral, metode, pendanaan, perlengkapan, situasi medan da’wah dan lain sebagainya. Karena itu dituntut untuk memiliki  keimanan,  keilmuan  dan  keterampilan   yang memadai.    Mengabaikan   salah   satunya  dapat mengakibatkan terjadinya kendala dalam  berorganisasi yang baik.

Penerapan prinsip-prinsip manajemen adalah fleksibel dan tidak mutlak artinya  penerapannya disesuaikan dengan potensi, situasi dan kondisi organisasi. Dalam  penerapannya  pada  setiap  organisasi Ta’mir Masjid tidak  selalu  memberikan  hasil  yang  sama. Dengan   demikian  dalam  pelaksanaannya, Pengurus dan anggota perlu  memiliki  keahlian   melakukan “aransemen”  dan “improvisasi” sesuai dengan  permasalahan yang dihadapi.

Ilmu manajemen ditemukan dan dikembangkan oleh kebanyakan non-muslim  terutama dari  Barat  dan Jepang yang memiliki standar  nilai tersendiri,  untuk itu dalam  mengadopsinya  dituntut kearifan dan keahlian yang handal. Ta’mir Masjid yang ingin maju  harus  mau dan  mampu mengadopsi ilmu manajemen,  tentu saja harus mengaplikasikan secara islami.

_______________________

DAFTAR PUSTAKA

Drs.  EK. Imam Munawwir: “Asas  Asas Kepemimpinan  dalam  Islam”, Usaha Nasional, Surabaya.

Drs.  MH.  Saragih: “Azas Azas Organisasi  dan  Manajemen”, Edisi 1, Tarsito, Bandung, 1982.

Drs. Jawahir Tanthowi: “Unsur-Unsur Manajemen Menurut Ajaran Al Quraan”, Cetakan Pertama,  Pustaka Al Husna, Jakarta, 1983.

Drs. Sutarto: “Dasar Dasar Organisasi”, Edisi 9, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta, 1986.

Ir. Siswanto: “Panduan Pengelolaan Himpunan Jama’ah Masjid”, Pustaka Amani,  Jakarta, 2002.

Ir. Siswanto: “Panduan Praktis Organisasi Remaja Masjid”, Pustaka Al-Kautsar,  Jakarta, 2005.

Richard Y. Chang  and Matthew E. Niedzwiecki: “Continuous Improvement Tools”, Volume 1 & 2,  Richard Chang Associates, Inc., Irvine, California,  1993.

Richard Y. Chang: “Continuous Process Improvement”, Richard Chang Associates, Inc., Irvine, California,  1994.