CINTA DALAM DERAI AIR MATA
Ada cinta yang lahir dari tatap mata.
Ada cinta yang tumbuh dari untaian kata.
Dan ada cinta yang mencapai puncaknya
ketika dipisahkan oleh derai air mata.
Bukan kisah yang dipintal khayal,
melainkan takdir yang menulis dirinya
dengan tinta ujian
di atas lembaran zaman.
Zainab.
Putri Muhammad ﷺ.
Namanya semerbak iman,
namun pernah gelisah oleh penantian.
Sebelum wahyu mengetuk bumi,
cintanya telah berlabuh pada Abul Ash.
Mereka membangun rumah dari ketulusan,
hingga ujian mengetuk pintunya.
Ketika hidayah memeluk Zainab,
lelaki yang dicintainya
masih berdiri di seberang cahaya.
Hingga iman menuntut ketaatan,
meski perpisahan menjadi jalan.
Betapa berat
saat hati berbisik,
“Tetaplah…”
sementara iman menjawab,
“Taatilah.”
Bukan cinta yang gugur,
bukan setia yang luruh.
Yang diuji adalah arah langkah:
apakah cinta menuju Tuhan,
atau Tuhan ditinggalkan demi cinta.
Lalu Badar.
Seorang ayah di satu saf,
seorang suami di saf yang lain.
Pedang bertemu pedang,
namun rindu tak mengenal musuh.
Lalu datanglah seuntai kalung.
Warisan Khadijah.
Benda kecil yang lebih berat
daripada gunung kenangan.
Di tangan manusia,
ia hanyalah perhiasan.
Di tangan kenangan,
ia menjelma air mata.
Musim berganti,
tahun berlalu,
tetapi doa
tak pernah berganti.
Hingga Allah membuka pintu
yang tak sanggup dibuka
oleh cinta semata.
Hidayah pun datang.
Dua hati yang dahulu
dipisahkan demi Allah,
dipertemukan kembali oleh Allah.
Mungkin beginilah
langit mengajarkan cinta.
Bukan selalu dengan mendekatkan,
kadang justru dengan menjauhkan.
Agar rindu berubah menjadi doa,
doa berubah menjadi cahaya,
dan cahaya menuntun dua jiwa
menuju keridaan-Nya.
Sebab cinta
tidak berakhir di pelukan,
melainkan di keridaan Allah.
Dan Zainab hanyalah sebutir mutiara
di kedalaman samudra sejarah
perempuan-perempuan mulia.
Masih banyak mutiara
yang belum terangkat ke permukaan,
menunggu jiwa-jiwa
yang bersedia menyelaminya.
Menyelamilah.
Sebab setiap mutiara
bukan sekadar memperindah pandangan,
melainkan memperkaya keimanan.
Sukoharjo, 1 Juli 2026
Hawin Murtadlo Bukhori
