Manajemen Pelatihan Jama’ah Masjid

23 Oktober 2026 · Institut Manajemen Masjid

Dokumentasi IMMASJID

Pelatihan (training) merupakan upaya pembinaan untuk meningkatkan kualitas jama’ah Masjid dengan menyediakan forum yang kondusif. Pelatihan perlu dilakukan secara terencana, terarah, sistematis, berkesinambungan dan memiliki panduan yang baku. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Ta’mir Masjid harus memiliki kerangka jelas baik tujuan, jenjang, syllabus, arah, metode, materi dan lain sebagainya.

JENIS JENIS PELATIHAN

Mengingat kemudahan dan kesederhanaan sistim yang digunakan sebaiknya Pengurus Ta’mir Masjid menghadirkan jenjang pelatihan yang tidak terlalu tinggi namun jenisnya bervariasi. Bilamana perlu hanya terdiri dari pelatihan utama dan pelatihan pendukung. Hal ini dimaksudkan agar tidak menyulitkan jama’ah untuk berpartisipasi dan memberi kemudahan dalam proses kaderisasi.

Ilustrasi Workshop Manajemen Masjid

Pelatihan utama berupa Pelatihan Kepemimpinan Masjid (PKM) dan Training of Trainers (TOT). PKM merupakan syarat aktivitas struktural setiap jama’ah yang ingin menjadi Pengurus. Artinya salah satu syarat seorang jama’ah untuk menjadi Pengurus Ta’mir Masjid adalah harus pernah mengikuti pelatihan ini. Diharapkan setiap jama’ah pernah mengikutinya. Sedang TOT diselenggarakan untuk mendidik calon instruktur atau pelatih di lingkungan jama’ah Masjid.

Pelatihan pendukung dimaksudkan untuk memberi bekal keilmuan dan keterampilan yang bersifat teknis. Pelatihan ini merupakan pengembangan dari pelatihan utama yang memberi dukungan dalam peningkatan kualitas kader. Beberapa diantaranya adalah Up Grading Kepengurusan, Jurnalistik, Keterampilan Organisasi, Daurah Murabbi, Pesantren Kilat, Kristologi dan lain sebagainya.

Pelatihan yang diselenggarakan Ta’mir Masjid dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan afektif, kognitif dan psikomotorik peserta yang dinafasi nilai-nilai Islam. Karena itu perlu disusun sedemikian rupa agar para peserta memiliki informasi dan visi yang sama tehadap Islam dan aktivitas kemasjidan. Sehingga dihasilkan jama’ah yang memiliki pola fikir, tindakan dan pandangan yang sama. Berikut ini Diagram Alir Sistim Pelatihan Jama’ah tersebut:

Dokumentasi IMMASJID

PENYELENGGARAAN PELATIHAN

Pelatihan diselenggarakan oleh Pengurus dan ditangani oleh suatu panitia yang dibentuk untuk keperluan pelatihan. Pengurus Ta’mir Masjid Bidang Pembinaan Jama’ah membentuk Panitia Pelaksana (organizing committee) pelatihan serta menempatkan personilnya sebagai Panitia Pengarah (steering committee). Panitia pelatihan inilah yang nantinya bekerja melaksanakan secara teknis penyelenggaraan pelatihan, baik persiapan, pelaksanaan maupun pelaporannya. Beberapa kegiatan yang dilakukan panitia pelatihan antara lain:

  1. Menyusun proposal kegiatan.
  2. Melakukan penggalangan dana dan bantuan lainnya.
  3. Mempersiapkan tempat dan sarana yang akan digunakan untuk pelatihan.
  4. Menghubungi Pemandu dan Pembicara.
  5. Menyebarluaskan informasi pelatihan yang akan diselenggarakan
  6. Melakukan pendaftaran peserta.
  7. Menyelenggarakan acara pelatihan.
  8. Membuat dokumentasi.
  9. Melaporkan seluruh kegiatan kepanitiaan dan pelatihan kepada Pengurus Ta’mir Masjid.

KORPS INSTRUKTUR

Pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan Ta’mir Masjid perlu didukung oleh para pelatih (trainer) yang berkualitas. Para pelatih, atau sering disebut Instruktur, baik itu Pemandu maupun Pembicara, perlu disatukan dalam sebuah lembaga yang disebut Korps Instruktur. Korps instruktur beranggotakan para jama’ah yang telah mengikuti pelatihan Training of Trainers (TOT). Di dalam lembaga ini para instruktur disatukan dan ditingkatkan kemampuan mereka dalam mengelola pelatihan melalui aktivitas:

  1. Pelatihan Training of Trainers (TOT) bagi calon Instruktur.
  2. Pelatihan Training for Trainers (TFT) bagi Instruktur.
  3. Pelatihan Games (indoor dan outdoor games).
  4. Peningkatan kemampuan orasi, olah peran dan bekerja dalam kelompok.
  5. Kajian penguasaan forum, materi, teknik mengajar, teknik permainan (games) dan administrasi pelatihan.
  6. Kajian masalah-masalah aktual, misalnya: da’wah islamiyah, iptek, politik, sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, remaja, narkoba dan lain sebagainya.

INTERAKSI PELATIHAN

Pelatihan merupakan forum transformasi ilmu dan nilai, karena itu perlu dikelola secara bijaksana dan terarah dalam nuansa Islam. Dalam pelatihan juga dituntut interaksi yang efektif dan positif antara panitia, peserta, Pemandu dan Pembicara, sehingga tujuan dari penyelenggaraan pelatihan dapat tercapai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam interaksi pelatihan antara lain:

  1. Mengarah pada tujuan.
  2. Menjaga ukhuwah islamiyah.
  3. Saling menghargai pendapat (toleran).
  4. Berorientasi pada kebenaran.
  5. Mematuhi tata tertib.
  6. Menghidupkan suasana islami.

METODE PENYAMPAIAN MATERI

Transformasi ilmu dan nilai dalam pelatihan jama’ah Masjid dapat dilakukan dengan berbagai metode sebagaimana lazim dipergunakan dalam dunia belajar mengajar. Metode-metode tersebut dapat digunakan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan, di antaranya adalah:

  1. Ceramah

Metode ceramah adalah cara mengajar dengan penuturan secara lesan terhadap materi kajian yang telah ditetapkan. Dapat dipergunakan alat-alat bantu berupa: gambar, skema, benda, slide dan lain sebagainya. Metode ini menekankan aktivitas pada Pembicara. Pembicara dituntut untuk pandai memilih kata-kata, kalimat, intonasi suara, mimik wajah dan penguasaan suasana forum. Hal ini dimaksudkan agar dapat menarik perhatian peserta dan memahamkan mereka terhadap materi kajian.

2. Tanya jawab

Metode tanya jawab adalah cara mengajar dengan saling bertanya dan menjawab yang berhubungan dengan tema atau materi kajian. Metode ini menekankan keaktivan pada Pembicara dan peserta untuk saling bertanya dan menjawab guna mencari solusi masalah yang dibicarakan. Sehingga dituntut pemikiran analitis dan dialog yang argumentatif. Pembicara diharapkan mampu membawa kepada suasana forum yang dialogis, kritis, positif dan tetap menjaga ukhuwah.

3. Diskusi

Metode diskusi adalah cara mengajar dengan ceramah yang diikuti tanya jawab. Pembicara memaparkan pokok-pokok pikiran secara singkat dan sistimatis dan membawa kepada permasalahan-permasalahan dan alternatif-alternatif yang dapat diperdebatkan. Dalam diskusi dituntut suasana yang demokratis, tidak memihak, tidak saling menghujat, dialogis, musyawarah, mengarah pada kesimpulan dan berorientasi pada kebenaran.

Dalam metode ini, Pembicara mempersilahkan peserta untuk memilih solusi yang tepat dari berbagai kemungkinan jawaban dan peserta bebas untuk berfikir maupun berpendapat. Moderator atau Pemandu latihan mengatur lalu lintas dan distribusi kesempatan berbicara, menampung semua aspirasi atau jawaban serta mengarahkan peserta pada kesimpulan yang benar.

4. Penugasan

Metode penugasan adalah cara mengajar dengan memberikan tugas kepada peserta untuk diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan. Dalam forum pelatihan dapat diimplementasikan dengan menugaskan kepada peserta untuk membuat resume materi yang sudah disajikan maupun melakukan test dengan beberapa pertanyaan yang kemudian dikumpulkan dan diberi nilai. Dalam metode ini peran pemandu latihan sangat diperlukan untuk menjaga kedisiplinan peserta dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka.

5. Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara mengajar dengan memperagakan atau memperlihatkan bagaimana sesuatu dapat terjadi. Metode ini menekankan kepada praktek dan pemahaman peserta secara empiris. Instruktur mempersilahkan peserta untuk mencoba menirukan dan mempraktekan sesuatu yang diperagakan atau didemonstrasikan. Instruktur dapat melakukan pre-test maupun post-test terhadap sesuatu yang diperagakan kemudian menyampaikan evaluasi dan penjelasan atas peragaan tersebut.

6. Pemanduan (coaching)

Metode pemanduan adalah cara mengajar dengan memberikan bimbingan dan tauladan kepada peserta. Metode ini terutama diterapkan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai Islam dalam pelatihan. Pemandu dan Pembicara dituntut untuk mengarahkan, memberi contoh dan menanamkan nilai-nilai moral dengan cara yang bijaksana agar apa yang disampaikan terinternalisasi dalam jiwa peserta.

SYLLABUS MATERI

Materi pelatihan perlu disusun sedemikian rupa dalam suatu syllabus agar menjadi standard kajian bagi para instruktur. Hal ini diperlukan untuk memberikan keseragaman pemahaman kepada jama’ah terhadap materi yang disampaikan. Sehingga visi jama’ah terhadap suatu masalah sama. Dalam syllabus perlu ditentukan materi, tujuan instruksional, popok-pokok bahasan, langkah-langkah penyajian, target, metode, evaluasi dan rujukan (referensi). Sebagai contoh materi  “Pedoman Pelatihan” berikut ini:

Dokumentasi IMMASJID

EVALUASI PELATIHAN

Evaluasi pelatihan dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan kegiatan pelatihan yang diselenggarakan. Dalam kegiatan ini dilakukam evaluasi terhadap panitia, instruktur dan  peserta. Secara teknis evaluasi dilakukan berdasarkan aktivitas kepanitiaan, administrasi pelatihan, questionnaire, form evaluasi maupun test. Tujuan evaluasi untuk masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Panitia

Untuk mengetahui sejauh mana dukungan kepanitiaan dalam penyelenggaraan pelatihan. Keberhasilan panitia nampak pada kesuksesan pelaksanaan pelatihan, tidak ada atau sedikitnya complaint peserta dan kerapian dalam aktivitas kepanitiaan.

2. Instruktur

Untuk mengetahui sejauh mana peran pemandu dan pembicara dalam transformasi ilmu dan nilai selama pelatihan berlangsung. keberhasilan para instruktur dapat diukur dari tersampaikannya materi kajian sesuai syllabus, kepuasan peserta atas cara  penyampaian dalam forum dan penanaman nilai-nilai Islam kepada peserta.

3. Peserta

Untuk mengetahui sejauh mana peserta mampu menyerap materi kajian dan memahami maksud proses pelatihan yang diikuti. Keberhasilan peserta nampak dari pengertian dan pemahaman yang baik atas materi kajian, internalisasi nilai-nilai Islam yang ditanamkan selama mengikuti pelatihan dan kemampuan mereka dalam mengembangkan kemampuan teknis. Evaluasi juga bisa digunakan untuk menentukan kelulusan peserta dalam mengikuti pelatihan yang diselenggarakan.

FOLLOW UP PELATIHAN

Tindak lanjut  (follow up) dari pelatihan adalah dengan melakukan pembinaan kepada mantan peserta (extrainee) dalam aktivitas organisasi. Di antara upaya pembinaan tersebut misalnya dengan memberi tugas kepanitiaan kepada mereka. Sebagai contoh, misalnya para mantan peserta tersebut ditugaskan untuk menjadi panitia Musyawarah Jama’ah, panitia Ramadlan, panitia seminar dan lain sebagainya. Contoh yang lain, misalnya para extrainee tersebut membentuk kelompok kecil kajian Islam (halaqah) yang mendapat bimbingan Ustadz. Tugas-tugas tersebut disamping untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah juga untuk aplikasi ilmu dan internalisasi nilai-nilai Islam yang diperoleh dalam pelatihan.


Catatan:
Silahkan download Buku Serial Manajemen Masjid 03: “Kumpulan Materi Pelatihan Training Of Trainers (TOT) Takmir Masjid” di bagian / laman “DOWNLOAD” untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.

_________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Abul  A’la Maududi: “Dasar Dasar Islam”, Edisi  1,  Pustaka,  Bandung, 1984.

Dr. Abdul Hamid Al-Ghazali: “Pilar-Pilar Kebangkitan Umat”, Cetakan Kedua, Al I’tishom Cahaya Umat,  Jakarta, 2001.

Dr. Hisham Yahya Altalib: “Panduan Latihan Bagi Gerakan Islam”, Cetakan Ketiga, Penerbit Media Da’wah,  Jakarta, 1999.

Dr. Irwan Prayitno: “Kepribadian Muslim”, Cetakan Kedua, Pustaka Tarbiatuna,  Jakarta, 2003.

Dr. Yusuf  Al Qaradlawi: “Pedoman Ideologi Islam”, Edisi 2,  Gema Risalah Press, Bandung, 1988.

Jakarta, 2000.

Endang Saefuddin Anshari, MA : “Wawasan   Islam  (Pokok-Pokok     Pikiran  Tentang Islam Dan Umatnya)”, Edisi 2,  CV  Rajawali,     Jakarta, 1991.

Ir. Siswanto: “Panduan Pengelolaan Himpunan Jama’ah Masjid”, Pustaka Amani,  Jakarta, 2002.

Ir. Siswanto: “Panduan Praktis Organisasi Remaja Masjid”, Pustaka Al-Kautsar,  Jakarta, 2005.

Muhamad Ruswandi dan Tim ILNA YOSEN: “Game for Islamic Mentoring”, Cetakan kedua, PT Syamil Cipta Media,  Bandung, 2005.

Komentar

Silakan berdiskusi dengan santun dan sesuai pembahasan.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak dipublikasikan. Komentar pertama menunggu persetujuan pengelola.